RSS

Makalah Dasar Budidaya Tanaman

                                                                                 BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Dasar Budidaya Tanaman merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang pertumbuhan tanaman dari sifat genetik, faktor iklim, tanah dengan pertumbuhan tanaman, pupuk, dan sifat-sifatnya, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, peranan benih dan zat tumbuh, pemasakkan tanaman dalam kaitannya dengan umur panen, pengelolaan lingkungan tanaman, pola tanam serta pengendalian hama, penyakit dan gulma.
     Sistem budidaya tanaman adalah sistem pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam nabati melalui upaya manusia yang dengan modal, teknologi, dan sumberdaya lainnya menghasilkan barang guna memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik.
Kegiatan budidaya termasuk dalam bagian hulu agribisnis. Apabila produk budidaya (hasil panen) dimanfaatkan oleh pengelola sendiri, kegiatan ini disebut pertanian subsistem, dan merupakan kegiatan agribisnis paling primitif. Pemanfaatan sendiri dapat berarti juga menjual atau menukar untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
Dalam arti luas agribisnis tidak hanya mencakup kepada industri makanan saja. Seiring perkembangan teknologi, pemanfaatan produk pertanian berkaitan erat dengan farmasi, teknologi bahan, dan penyediaan energi.
Cakupan obyek pertanian yang dianut di Indonesia meliputi budidaya tanaman (termasuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan), kehutanan, peternakan, dan perikanan. Sebagaimana dapat dilihat, penggolongan ini dilakukan berdasarkan objek budidayanya:
·                     budidaya tanaman, dengan obyek tumbuhan dan diusahakan pada lahan yang diolah secara intensif,
·                     kehutanan, dengan obyek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar,
·                     peternakan, dengan obyek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia),
·                     perikanan, dengan obyek hewan perairan (ikan, amfibia dan semua non-vertebrata).
Pembagian dalam pendidikan tinggi sedikit banyak mengikuti pembagian ini, meskipun dalam kenyataan suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai objek ini bersama-sama sebagai bentuk efisiensi dan peningkatan keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga dipelajari dalam ilmu-ilmu pertanian.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Berikut macam-macam rumusan masalah budidaya tanaman, yaitu:
a.       Bagaimana pengaruh iklim terhadap budidaya tanaman ?
b.      Bagaimana pengaruh ketinggian tempat terhadap budidaya tanaman ?
c.       Apakah kesesuaian lahan berpengaruh terhadap budidaya tanaman ?
d.      Bagaimana permintaan pasar terhadap budidaya tanaman di Indonesia?

1.3  TUJUAN
Tujuan dari budidaya tanaman adalah :
a.       Untuk mengetahui pengaruh iklim terhadap budidaya tanaman.
b.      Untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap budidaya tanaman.
c.       Untuk mengetahui pengaruh kesesuaian lahan terhadap budidaya tanaman.
d.      Untuk mengetahui pengaruh permintaan pasar terhadap budidaya tanaman.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Iklim
Iklim adalah rata-rata keadaan cuaca dalam jangka waktu yang cukup lama, minimal 30 tahun, yang sifatnya tetap. Iklim itu dapat dipandang sebagai kebiasaan- kebiasaan alam yang berlaku yang digerakkan oleh gabungan dari pada unsur-unsur, yaitu : radiasi matahari, temperatur, kelembaban, awan, presifikasi, evaporasi, tekanan udara, angin. (Ance, 1988).
Iklim Indonesia secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.     Daerah yang meliputi sebagian besar pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya diliputi iklim “Tropis”.
b.    Daerah yang meliputi pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang mempunyai dua musim, yaitu musim basah (hujan) dan kering.
Ciri-ciri iklim tropis ialah:
-          Curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, tidak mengenal bulan-bulan yang kering. Curah hujan rata-rata setiap tahunnya lebih dari 3.000 mm.
-          Suhu udara yang rata-rata tinggi merata sepanjang tahun.
Dalam daerah yang mempunyai dua musim yang jelas, dikenalnya bulan-bulan basah dengan curah hujan lebih dari 100 mm/bulan.
2.1.1 Klasifikasi Iklim Berdasar Pertumbuhan Vegetasi
·         Sistem Klasifikasi Koppen
Klasifikasinya berdasarkan pada curah hujan, temperatur, vegetasi yang khusus di daerah. Dari kelas ini dibagi 5 bagian utama dan tiap bagian di bagi dalam sub bagian :
a.       Iklim tipe A           : Iklim hujan tropis
b.      Iklim tipe B           : Iklim kering
c.       Iklim tipe C           : Iklim hujan cukup panas
d.      Iklim tipe D           : Iklim hutan salju dingin
e.       Iklim tipe E           : Iklim kutub
Pada iklim A, C, D terdapat kemungkinan tumbuhnya berjenis-jenis tumbuh – tumbuhan, pada iklim B biasanya sangat baik untuk jenis stepa, sedangkan pada iklim E lumut-lumutan sangat berkembang.
·         Sistem Klasifikasi Scmidth – Ferguson
Prinsip yang digunakannya yaitu dengan mengambil bulan kering dan bulan basah, dengan cara sebagai berikut.
Diambilnya dengan data-data curah hujan untuk 10 tahun, akan tetapi yang diambil dari 10 tahun itu langsung berapa bulan kering dan bulan basah dijumlahkan dan dirata-rata.
Bulan lembab ternyata dalam penggolongan inipun tidak ikut dihitung. Persamaan yang dikemukakan Scmidht adalah sebagai berikut:
                        Jumlah rata-rata bulan kering
Q = _____________________________ X 100 %
                        Jumlah rata-rata bulan basah

·         Sistem Klasifikasi Oldeman
Klasifikasi yang dibuatnya digunakan terutama untuk keperluan pertanian di Indonesia. Dasar yang digunakannya yaitu adanya bulan basah yang berturut-turut dan bulan kering yang berturut-turut pula dimana kesemua ini dihubungkan dengan kebutuhan tanaman padi di sawah serta palawija terhadap air.
Dalam hal penentuan bulan basah dan bulan kering, menurut Oldeman:
-          Bulan basah yaitu suatu bulan dengan curah hujan lebih dari 200 mm.
-          Bulan kering yaitu suatu bulan dengan curah hujan yang kurang dari 100 mm.
Berdasarkan penggolongannya yang menitikberatkan pada bulan basah, Oldeman mengemukakan 5 zona utama bulan basah yang berturut-turut sebagai berikut:
a.       Zona A, bulan basah yang lebih dari 9 kali berturut-turut.
b.      Zona B, bulan basah 7 sampai 9 kali berturut-turut.
c.       Zona C, bulan basah 5 sampai 6 kali berturut-turut.
d.      Zona D, bulan basah 3 sampai 4 kali.
e.       Zona E, bulan basah yang kurang dari 3.
2.1.2 Pengaruh Iklim Terhadap Bidang Pertanian
·         Pengaruh Terhadap Tanah
Tanah yang merupakan modal utama para petani itu keadaannya sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim, yaitu hujan, suhu dan kelembaban, pengaruh-pengaruh tersebut kadang-kadang menguntungkan tetapi sering pula merugikan.
LANG membedakan 2 tipe tanah, yaitu:
a.       Climate soil type, dalam hal ini pembentukan tanah disebabkan karena pengaruh curah hujan dan temperatur.
b.      Aclimate soil type, disini pembentukan tanah bukan disebabkan oleh faktor iklim, melainkan oleh keadaan batuan.
·         Pengaruh Terhadap Tanaman
Pola pertanian, sistem bercocok tanam, sistem pengolahan tanah, pembukaan lahan-lahan pertanian, penggunaan bibit-bibit unggul serta pemberantasan hama dan penyakit tanaman, sangat memperhatikan pengaruh-pengaruh iklim yang berlaku di daerah-daerah, pendekatan dan penyesuaian pun terjadi, sehingga unsur-unsur iklim menjadi sangat bersahabat dalam meningkatkan produksi pertanian.
·         Pengaruh Pada Hama dan Penyakit Tanaman
Pengaruh-pebgaruh iklim yang terdapat di bumi kita (Indonesia), yaitu di satu pihak iklim yang demikian cocok bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman-tanaman sedang di lain pihak unsur-unsur iklim pula yang menjadikan demikian kurangnya unsur-unsur hara dan zat-zat makanan yang tersedia dalam tanah melalui proses pengankutan, telah mendorong berbagai upaya dengan perlakuan-perlakuan yang kerapkali kurang dipikirkan secara matang, agar tanaman tersebut dapat dikembangkan sedemikian rupa.
2.2 Ketinggian Tempat
       2.2.1 Pengaruh Ketinggian Tempat pada Sejumlah Faktor Iklim
Akibat umum dari kenaikan tinggi tempat adalah:
1)    Meningkatkan awan rendah, curah hujan dan kecepatan angin.
2)   Menurunkan intensitas penyinaran dan rentang suhu sebagai akibat dari awan rendah.
3)    Menurunkan suhu maksimum lebih dari suhu minimum.
Dalam kombinasinya, sejumlah perubahan tersebut mengakibatkan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidup tanaman makin lama. Kozhevnikov (1966) membuktikan pengaruh ini pada penelitiannya dengan komoditi gandum musim dingin di Uni Soviet. Dia menanam 114 jenis baru pada ketinggian 22 m, dan 1795 m dpl. Pada ketinggian 22 m gandum membutuhkan antara 204 – 215 hari untuk menyelesaikan daur hidupnya, bandingkan dengan kisaran antara 278 – 342 hari pada ketinggian 1795 m.      
         2.2.2 Elevasi (Tinggi Tempat) di Atas Permukaan Laut (dpl)
Elevasi menentukan perbedaan suhu, kelembaban udara, dan intensitas matahari. Tidak dapat di sangka lagi bahwa elevasi merupakan salah satu faktor ekologi yang juga mempengaruhi diversifikasi tanaman buah-buahan. Tidak semua pohon buah-buahan memerlukan suhu udara atau intensitas sinar matahari yang sama. Misalnya, tanaman kecapi di daerah pegunungan tidak akan berbuah, jeruk pompelmus yang tumbuh di pegunungan akan pahit rasanya, mangga di dataran tinggi tidak akan berbuah. Jelaslah kiranya, bahwa buah tertentu memerlukan intensitas sinar matahari tertentu pula. Bertambah tinggi letaknya suatu daerah bertambah pula intensitas tersebut. Maka akan baiknya bila kita akan menanam suatu jenis pohon buah-buahan, menyelidiki terlebih dahulu faktor-faktor ekologi di lokasi yang bersangkutan. Meneliti pertumbuhan jenis-jenis pohon buah-buahan yang telah ada di bidang pertumbuhan dan produksinya akan memberikan keyakinan yang lebih mantap terhadap rencana kita, bila mana yang akan ditanam, merupakan suatu jenis pohon buah-buahan yang telah ada di lokasi tersebut. Penelitian sebelum perang menghasilkan ditentukannya ketinggian tempat dpl yang ekonomis bagi setiap ph.
2.3. Kesesuaian Lahan
Produktivitas tanaman pangan tergantung pada kualitas lahan yang digunakan. Jika pada pemilihan lahan pada awal pembangunan tanaman areal-areal yang tidak produktif tidak disisihkan, maka kerugian (finansial) yang cukup besar akan terjadi nantinya.

2.3.1 Evaluasi Lahan untuk Irigasi
Pembangunan sistem irigasi diperlukan terutama untuk daerah-daerah dimana air merupakan pembatas utama bagi pengembangan pertanian. Di samping itu pembangunan sistem irigasi sangat diperlukan untuk peningkatan intensitas penggunaan lahan baik untuk tanaman palawija maupun padi sawah.
Evaluasi lahan untuk irigasi terutama bertujuan untuk menetapkan penggunaan tanah dan air secara tepat meliputi perencanaan sistem jaringan irigasi, kebutuhan air untuk irigasi, luas usaha tani  serta operasi dan pemeliharaannya.   Dalam hal ini perlu diperhatikan antara lain sifat-sifat lahan, luas lahan yang diairi, letak dan jumlah sumber air yang tersedia, biaya yang diperlukan dan sebagainya. Hasil-hasil survei tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk evaluasi yang dimaksud.
Faktor-faktor yang dinilai dalam klasifikasi kesesuaian lahan untuk irigasi meliputi faktor-faktor tanah, topografi dan drainase.  Faktor-faktor yang berkaitan dengan ekonomi tidak dinilai secara khusus tetapi diperhatikan secara kualitatif.
 2.3.2 Kelas Kesesuaian Lahan untuk Irigasi 
Dengan memperhatikan kerangka evaluasi FAO (1976) dan sistem USBR (1953) klasifikasi kesesuaian lahan untuk irigasi dibedakan ke dalam :
·         Kelas  1  = Sangat sesuai 
·         Kelas  2  = Cukup sesuai
·         Kelas  3  = Agak sesuai
·         Kelas  4  = Sesuai marginal
·         Kelas  5  = Sementara tidak sesuai
·         Kelas  6  = Tidak sesuai selamanya
Subkelas  : Dibedakan dengan jenis faktor penghambatnya dalam       masing-masing kelas.  
Unit         : Dibedakan dengan jenis faktor penghambat dalam  masing-         masing subkelas. 
Untuk pemetaan tanah semi detail (1 : 50 000) klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan sampai tingkat subkelas. 
Lahan Kelas 1, 2, 3  merupakan lahan yang sesuai untuk irigasi dengan kelas kesesuaian lahan yang berturut-turut semakin rendah karena besarnya faktor penghambat yang semakin meningkat. Lahan Kelas 4 merupakan  lahan yang sesuai untuk irigasi dengan pengelolaan khusus.  Hambatan-hambatan yang ditemukan pada lahan ini untuk penggunaan khusus, secara ekonomis masih dapat diatasi. Lahan Kelas 5 merupakan pengkelasan sementara, dimana pada saat survei dilakukan lahan tidak sesuai untuk irigasi, tetapi dengan usaha-usaha tertentu diperkirakan dapat menjadi lahan yang sesuai.  Perlu penelitian lebih lanjut apakah usaha-usaha perbaikan tersebut secara ekonomis masih dapat diatasi.
Lahan Kelas 5 dapat mempunyai penghambat khusus seperti salinitas yang tinggi, topografi berbukit, hamparan batuan atau laterit pada kedalaman kurang dari 150 cm, dsb.  Termasuk juga lahan Kelas 5 adalah lahan yang sesuai untuk pertanian tetapi merupakan daerah sempit yang terisolasi dalam lahan yang sesuai untuk pertanian.  Demikian juga lahan yang sesuai untuk pertanian tetapi terletak pada tempat yang lebih tinggi dari sumber air sehingga dengan sistem irigasi gravitasi tidak mungkin diairi.  Apabila irigasi dilakukan dengan pompa lahan ini  dapat menjadi lahan yang sesuai  untuk irigasi.
 Lahan Kelas 5 untuk irigasi dipisahkan hanya bila kondisi daerah memerlukan pertimbangan lebih lanjut tentang lahan dalam hubungannya dengan proyek irigasi misalnya :  jika persediaan air masih cukup banyak atau kekurangan jumlah lahan yang baik diperlukan, mendesaknya rehabilitasi atau pemukiman kembali dan sebagainya. Lahan Kelas 5 merupakan kelas sementara, dan berdasarkan penelaahan lebih lanjut tentang kemungkinan perbaikan secara ekonomis, kelas kesesuaian lahan ini dapat berubah menjadi lahan sesuai atau lahan tidak sesuai selamanya (Kelas 6). 
 Lahan Kelas 6 merupakan lahan yang tidak sesuai selamanya untuk pertanian irigasi.  Hambatan-hambatan yang ditemukan, secara ekonomis dan fisik tidak dapat diatasi. Lahan Kelas 6 umumnya terdiri dari lahan yang curam, bergunung, tererosi berat, tekstur sangat kasar, tanah dangkal di atas kerikil, napal (shale), batu pasir, atau lahan yang berdrainase sangat buruk ataupun terlalu sering kebanjiran (flood) yang  secara ekonomis tidak dapat diperbaiki.
2.4 Permintaan Pasar
Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu.
2.4.1 Fungsi Permintaan Pasar
Fungsi permintaan pasar akan sebuah produk akan menunjukkan hubungan antara jumlah produk yang akan diminta dengan semua faktor yang mempengaruhi permintaan tersebut.

2.4.2 Variabel penentu permintaan
·           Variabel strategis adalah harga barang yang bersangkutan, advertensi, kualitas dan desain barang, serta saluran distribusi barang.
·           Variabel konsumen adalah tingkat pendapatan, selera konsumen, dan harapan konsumen terhadap harga dimasa yang akan datang.
2.4.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Permintaan
·            Harga Barang itu Sendiri
Harga barang akan memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika harga naik jumlah permintaan barang tersebut akan meningkat, sedangkan jika harga turun maka jumlah permintaan barang akan menurun.
·            Harga Barang Subtitusi (Pengganti)
Harga barang dan jasa pengganti (substitusi) ikut memengaruhi jumlah barang dan jasa yang diminta. Apabila harga dari barang substitusi lebih murah maka orang akan beralih pada barang substitusi tersebut. Akan tetapi jika harga barang substitusi naik maka orang akan tetap menggunakan barang yang semula. Contohnya pada saat beras naik sangat tinggi, maka masyarakat yang tidak mampu akan beralih membeli jagung sebagai pengganti beras.


·            Harga Barang Komplementer (Pelengkap)
Barang pelengkap juga dapat memengaruhi permintaan barang/jasa. Misalnya sepeda motor, barang komplementernya bensin. Apabila harga bensin naik, maka kecenderungan orang untuk membeli sepeda motor akan turun, begitu juga sebaliknya.
·            Pendapatan
Besar kecilnya pendapatan yang diperoleh seseorang turut menentukan besarnya permintaan akan barang dan jasa. Apabila pendapatan yang diperoleh tinggi maka permintaan akan barang dan jasa juga semakin tinggi. Sebaliknya jika pendapatannya turun, maka kemampuan untuk membeli barang juga akan turun. Akibatnya jumlah barang akan semakin turun. Misalnya pendapatan Ibu Tia dari hasil dagang minggu pertama Rp200.000,00 hanya dapat untuk membeli kopi 20 kg. Tetapi ketika hasil dagang minggu kedua Rp400.000,00, Ibu Tia dapat membeli kopi sebanyak 40 kg.
·            Selera Konsumen
Selera konsumen terhadap barang dan jasa dapat memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika selera konsumen terhadap barang tertentu meningkat maka permintaan terhadap barang tersebut akan meningkat pula. Misalnya, sekarang ini banyak orang yang mencari hand phone yang dilengkapi fasilitas musik dan game, karena selera konsumen akan barang tersebut tinggi maka permintaan akan hand phone yang dilengkapi musik dan game akan meningkat.
·            Intensitas Kebutuhan Konsumen
Intensitas kebutuhan konsumen berpengaruh terhadap jumlah barang yang diminta. Kebutuhan terhadap suatu barang atau jasa yang tidak mendesak, akan menyebabkan permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa tersebut rendah. Sebaliknya jika kebutuhan terhadap barang atau jasa sangat mendesak maka permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa tersebut menjadi meningkat, misalnya dengan meningkatnya curah hujan maka intensitas kebutuhan akan jas hujan semakin meningkat. Konsumen akan bersedia membeli jas hujan hingga Rp25.000,00 walaupun kenyataannya harga jas hujan Rp15.000,00.
·            Perkiraan Harga di Masa Depan
Apabila konsumen memperkirakan bahwa harga akan naik maka konsumen cenderung menambah jumlah barang yang dibeli karena ada kekhawatiran harga akan semakin mahal. Sebaliknya apabila konsumen memperkirakan bahwa harga akan turun, maka konsumen cenderung mengurangi jumlah barang yang dibeli. Misalnya ada dugaan kenaikan harga bahan bakar minyak mengakibatkan banyak konsumen antri di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) untuk mendapatkan bensin atau solar yang lebih banyak.
·            Jumlah Penduduk
Pertambahan penduduk akan memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika jumlah penduduk dalam suatu wilayah bertambah banyak, maka barang yang diminta akan meningkat.
2.4.4 Macam-Macam Permintaan
Permintaan dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, antara lain permintaan berdasarkan daya beli dan jumlah subjek pendukung.


a.    Permintaan Menurut Daya Beli
Berdasarkan daya belinya, permintaan dibagi menjadi tiga macam, yaitu permintaan efektif, permintaan potensial, dan permintaan absolut.

1)  Permintaan efektif adalah permintaan masyarakat terhadap suatu barang atau jasa yang disertai dengan daya beli atau kemampuan membayar. Pada permintaan jenis ini, seorang konsumen memang membutuhkan barang itu dan ia mampu membayarnya.

2) Permintaan potensial adalah permintaan masyarakat terhadap suatu barang dan jasa yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk membeli, tetapi belum melaksanakan pembelian barang atau jasa tersebut. Contohnya Pak Luki sebenarnya mempunyai uang yang cukup untuk membeli kulkas, namun ia belum mempunyai keinginan untuk membeli kulkas.

3) Permintaan absolut adalah permintaan konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang tidak disertai dengan daya beli. Pada permintaan absolut konsumen tidak mempunyai kemampuan (uang) untuk membeli barang yang diinginkan. Contohnya Hendra ingin membeli sepatu olahraga. Akan tetapi uang yang dimiliki Hendra tidak cukup untuk membeli sepatu olahraga. Oleh karena itu keinginan Hendra untuk membeli sepatu olahraga tidak bisa terpenuhi.

b.      Permintaan Menurut Jumlah Subjek Pendukungnya
Berdasarkan jumlah subjek pendukungnya, permintaan terdiri atas permintaan individu dan permintaan kolektif.

1 ) Permintaan individu
Permintaan individu adalah permintaan yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contoh bentuk permintaan individu seperti pada Tabel 17.1 mengenai daftar permintaan jeruk Desi.

2 ) Permintaan kolektif
Permintaan kolektif atau permintaan pasar adalah kumpulan dari permintaan-permintaan perorangan/individu atau permintaan secara keseluruhan para konsumen di pasar. Contohnya, selain Desi, di pasar juga ada beberapa pembeli lainnya yang akan membeli jeruk. Jika permintaan Desi dan teman-temannya tersebut digabungkan maka terbentuk permintaan pasar. Bentuk permintaan kolektif dapat kalian lihat pada Tabel 1.






Tabel 1. Daftar Permintaan Pasar terhadap Jeruk








BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengaruh Iklim Terhadap Budidaya Tanaman
     Iklim merupakan salah satu komponen ekosistem (bio-fisik) yang proses dan dinamikanya dipengaruhi oleh faktor global dan berada di luar atmosfer. Secara teknis dalam budidaya tanaman, hampir semua unsur iklim berpengaruh terhadap produksi dan pengelolaan tanaman. Namun masing-masing mempunyai pengaruh dan peran yang berbeda teradap berbagai aspek dalam budidaya tanaman. Sedangkan secara konseptual, pendekatan dan informasi iklim dalam pembangunan pertanian berkaitan dengan 5 aspek atau kegiatan (Las, Fagi & Pasandaran, 1999 dalam Surmaini, dkk.), yaitu :
·       pengembangan wilayah dan komoditas pertanian seperti kesesuaian lahan, perencanaan tata ruang, pemwilayahan agroekologi dan komoditi, sistem informasi geografi (GIS) dan lain-lain
·       perencanaan kegiatan operasional (budidaya) pertanian, seperti perencanaan pola tanam, pengairan, pemupukan, PHT (pengendalian hama terpadu), panen, dan lain-lain
·       peramalan dan analisis sistem pertanian, seperti daya dukung lahan, ramalan produksi, pendugaan potensi hasil dan produktivitas pertanian
·       pengelolaan dan konservasi lahan (tanah dan air)
·       menunjang kegiatan penelitian komoditas dan sumberdaya lahan serta pengkajian teknologi pertanian, terutama dalam merumuskan atau menyimpulkan hasilnya.

Informasi iklim sangat dibutuhkan dalam mengidentifikasi potensi dan daya dukung wilayah untuk penetapan strategi dan arah kebijakan pengembangan wilayah, seperti pola tanam, cara pengairan, pemwilayahan agroekologi, dan komoditi.  Pemilihan wilayah lahan komoditi pertanian dapat disusun berdasarkan agroklimat, karena tiap jenis tanaman mempunyai persyaratan tumbuh tertentu untuk berproduksi optimal. Suatu tanaman yang tumbuh, berkembang dan berproduksi optimal secara terus-menerus memerlukan kesesuaian iklim. Kondisi kesesuaian tersebut memungkinkan suatu wilayah untuk dikembangkan menjadi pusat produksi suatu komoditi pertanian.  Kajian sumberdaya agroklimat pada strata ini harus sejajar dan padu dengan kajian tanah, sosial ekonomi dan faktor produksi lainnya.
Keadaan iklim aktual (cuaca) pada periode tertentu sangat menentukan pola tanam, jenis komoditi, teknologi usahatani, pertumbuhan, produksi tanaman, serangan hama/penyakit dan lain-lainnya.  Apalagi sistem usahatani pada lahan kering, berbagai unsur iklim terutama pola dan distribusi curah hujan sangat dominan teradap produksi.
3.2 Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kondisi iklim, baik dari segi suhu, kelembaban udara maupun curah hujan, yang selanjutnya mempengaruhi vegetasi yang ada. Masing-masing zona ketinggian tempat memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik dari segi floristik, komposisi maupun struktur.
Ketinggian tempat adalah ketinggian dari permukaan air laut (elevasi). Ketinggian tempat mempengaruhi perubahan suhu udara. Semakin tinggi suatu tempat, misalnya pegunungan semakin rendah suhu udaranya atau udaranya semakin dingin. Sebaliknya, semakin rendah daerahnya semakin tinggi suhu udaranya atau udaranya semakin panas. Oleh karena itu, ketinggian suatu tempat berpengaruh terhadap suhu suatu wilayah. Perbedaan regional dalam topografi, geografi dan cuaca menyebabkan terjadinya perbedaan dalam tanaman, pola tanam, metode bercocok tanam dan situasi sosio-ekonomi. Pola tanam dari beberapa tanaman yang ditanam terus-menerus serta keadaan iklim yang cocok akan meningkatkan serangan hama, penyakit, dan gulma.
Tinggi tempat dari permukaan laut menentukan suhu udara dan intensitas sinar yang diterima oleh tanaman. Semakin tinggi suatu tempat semakin rendah suhu tempat tersebut. Demikian juga intensitas matahari semakin  berkurang. Suhu dan penyinaran inilah yang nantinya akan digunakan untuk menggolongkan tanaman apa yang sesuai untuk dataran tinggi atau dataran rendah. Ketinggian tempat dari permukaan laut juga sangat menentukan pembungaan tanaman. Tanaman berbuahan ditanam di dataran rendah berbunga lebih awal dibandingkan dengan yang ditanam pada dataran tinggi. Faktor lingkungan akan mempengaruhi proses-proses fisiologi dalam tanaman. Semua proses fisiologi akan dipengaruhi oleh suhu dan beberapa proses akan tergantung dari cahaya.
Bumi memiliki permukaan yang tidak rata, hal tersebut dibuktikan dengan adanya daerah pegunungan, perbukitan, pantai, lautan, dan sebagainya. Berdasarkan variasi ketidakrataan permukaan daratan, wilayah daratan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
1)    Daerah dataran rendah merupakan daerah yang berada pada ketinggian tempat < 400 m di atas permukaan laut (dpl). Topografinya cenderung rata, suhu udara di daerah dataran rendah biasanya cukup tinggi ≥ 27 – 33°C
2)    Daerah dataran medium merupakan daerah yang berada pada ketinggian tempat antara 400 – 700 m dpl. Untuk topografinya berbukit namun relatif rata, suhu udaranya cukup panas tapi tidak sepanas daerah dataran rendah berkisar antara 22 – 27°C
3)    Daerah dataran tinggi yaitu kelompok wilayah yang berada pada ketinggian di atas 700 m dpl. Sekitar 20% topografinya berbukit, dengan suhu udara ≤ 20°C maka dataran tinggi terasa lebih dingin dibandingkan dengan dataran rendah dan medium, tanahnya pun cukup subur dan cocok untuk ditanami sayuran.
Perbedaan ketinggian tempat tersebut mengakibatkan terjadinya peningkatan unsur-unsur cuaca atau iklim, terutama unsur suhu udara, kelembaban udara maupun hujan. Sedangkan akbibat umum dari kenaikan tinggi tempat adalah meningkatkan awan rendah, curah jujan adan kecepatan angin, menurunkan intensitas penyinaran dan rentang suhu sebagai akibat dari awan rendah, menurunkan suhu maksimun lebih dari suhu minimun.
3.3 Kesesuaian Lahan
Kesesuaian lahan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman budidaya. Apabila lahan tidak cocok dengan tanaman budidaya yang ditanam akan mengakibatkan tanaman budidaya yang ditanam mati. Penggunaan lahan untuk berbagai kelas kemampuan lahan tentu berbeda satu sama lain. Perbedaan didasarkan pada kekuatan faktor penghambat yang meningkat, pengaruh bersama antar berbagai unsur lahan seperti iklim dan sifat-sifat tanah yang permanen. Sifat-sifat tanah yang permanen diantaranya adalah ancaman kerusakan tanah, faktor pembatas penggunaan, kemampuan produksi, dan syarat-syarat pengelolaan tanah. Sifat-sifat lahan yang permanen diantaranya lereng, tekstur tanah, kedalaman tanah, tingkat erosi tanah yang telah terjadi, permeabilitas tanah, kemampuan menahan air, dan jenis mineral liat.
Ada delapan kelas lahan berdasarkan kemampuannya, yaitu :
1)    Kemampuan Kelas 1
Kemampuan lahan kelas I merupakan kelas kemampuan lahan yang terbaik. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya hambatan yang membatasi penggunannya. Lahan yang tergolong dalam kemampuan lahan kelas I mempunyai kombinasi sifat-sifat dan kualitas sebagai berikut: (a) Terletak pada topografi hampir datar; (b) Ancaman erosi kecil; (c) Mempunyai kedalaman efektif (tanah yang mengandung unsur hara) yang dalam; (d) Umumnya berdrainase baik; (e) Mudah diolah; (f) Kapasitas menahan air baik (g) Subur atau peka terhadap pemupukan (h) Tidak terancam banjir; (i) Di bawah iklim setempat yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman umumnya.
Lahan Kelas I dapat digunakan untuk semua jenis penggunaan, mulai dari pertanian yang sangat intensif untuk tanaman semusim dan tahunan sampai penggunaan untuk hutan lindung. Walaupun demikian, jenis tanah ini tetap memerlukan tindakan untuk mempertahankan produktivitas berupa pemeliharaan kesuburan dan struktur tanah.Upaya ini meliputi pemupukan baik dengan pupuk buatan maupun pupuk organik, pergiliran tanaman dan penggunaan tanaman penutup tanah. Pada peta kemampuan lahan kelas, kelas ini biasanya ditandai dengan warna hijau.
2)      Kemampuan kelas 2
Lahan kelas II mempunyai kombinasi sifat-sifat dan kualitas sebagai berikut: a) Lereng landai, kemiringan kurang dari 30%; b) Kepekaan erosi atau ancaman erosi sedang atau telah mengalami erosi sedang; c) Kedalaman efektif agak dalam; d) Struktur tanah dan daya olah tanah kurang baik; e) Salinitas ringan sampai sedang atau terdapat garamnatrium yang mudah dilihilangkan, tetapi besar kemungkinan timbul kembali; f) Kadang-kadang terkena banjir yang merusak; g) Kelebihan air dapat diperbaiki dengan drainase; h) Keadaan iklim agak kurang sesuai dengan tanaman dan pengelolaan.
Tanah pada kemampuan lahan kelas II menuntut sistem pengelolaan yang lebih berat dibandingkan lahan kelas I. Lahan pada kelas ini mempunyai beberapa hambatan atau ancaman kerusakan sehingga mengurangi pilihan penggunaannya dan memerlukan tindakan konservasi sedang. Jika dipergunakan untuk tanaman semusim, selain pemupukan, tanah kelas II memerlukan tindakan konservasi seperti pembuatan guludan, penanaman dalam setrip, pengolahan menurut kontur, dan pergiliran tanaman. Dalam peta kemampuan lahan kelas II biasanya ditandai dengan warna kuning.
3)      Kemampuan Kelas 3
Lahan yang dikelompokkan pada kelas III mempunyai hambatan yang lebih berat dibandingkan lahan kelas II. Lahan pada kelas ini tidak dapat digunakan untuk sistem pertanian yang sangat insentif. Pada lahan ini hanya dapat diterapkan mulai penggarapan secara sedang dan seterusnya sampai penggunaan untuk cagar alam. Lahan kelas III ini masih dapat dipergunakan untuk tanaman semusim dan tanaman yang memerlukan pengolahan tanah, tetapi harus dibarengi oleh konservasi. Jenis upaya konservasi dapat berupa guludan bersaluran, penanaman dalam setrip, penggunaan mulsa, pergiliran tanaman, pembuatan teras, atau kombinasi dari usaha konservasi tersebut. Pada peta kemampuan lahan, kelas ini ditandai dengan warna merah.
Tanah pada kelas kemampuan III memiliki sifat-sifat sebagai berikut: a) Lereng miring atau bergelombang, kemiringan kurang dari 50%; b) Peka terhadap erosi atau telah mengalami erosi yang agak berat; c) Sering kali mengalami banjir yang merusak tanaman; d) Permeabilitas lapisan bawah tanah tergolong lambat; e) Kedalamannya dangkal terhadap batuan,lapisan padas keras, lapisan pada rapuh, atau lapisan liat padat yang membatasi perakaran dan simpanan air; f) Terlalu basah atau masih terus jenuh air setelah didrainase; g) Kapasitas menahan air rendah; h) Salinitas atau kandungan natrium sedang; i) Hambatan iklim agak besar.
4)      Kemampuan Kelas 4
Tanah pada kelas IV tidak dapat digunakan untuk sistem pertanian intensif dan garapan sedang. Tanah pada kelas IV hanya dapat digarap secara terbatas, untuk penggembalaan insentif sampai hutan lindung. Selain perlakukan untuk upaya memelihara kesuburan tanah dan kondisi fisik tanah, pada lahan kelas ini juga dilakukan pembuatan teras bangku, saluran bervegetasi, dan dam penahan. Pada peta, kemampuan lahan kelas IV ditandai dengan warna biru.
Tanah pada kelas IV mempunyai kombinasi dari sifat-sifat sebagai berikut: a) Lereng curam atau berbukit, kemiringan lebih dari 50%; b) Kepekaan erosi; c) Pengaruh bekas erosi agak berat; d) Tanah dangkal; e) Kapasitas menahan air rendah; f) Sering digenangi air sehingga menimbulkan kerusakan berat pada tanaman; g) Kelebihan air bebas dan ancaman penjenuhan atau penggenangan terus terjadi setelah drainase; h) Salinitas atau kandungan natrium tinggi; i) Keadaan iklim kurang menguntungkan.
5)      Kemampuan Kelas 5
Lahan pada kelas V mempunyai kombinasi dari hambatan-hambatan sebagai berikut: a) Tergenang air; b) Sering terlanda banjir; c) Berbatu-batu; d) Iklim kurang sesuai.
Kondisi lahan seperti ini biasanya tidak dapat ditanami tanaman semusim, tetapi masih dapat ditumbuhi rumput atau pepohonan. Lahan pada kelas ini tidak cocok untuk digarap. Pada peta kemampuan lahan, kelas ini biasanya tanah ini ditandai dengan warna hijau tua.
6)      Kemampuan Kelas 6
Kemampuan lahan kelas VI mempunyai kombinasi dari sifat-sifat sebagai berikut: a) Terletak di lereng yang agak curam; b) Ancaman erosi berat; c) Telah tererosi berat; d) Mengandung garam laut atau natrium; e) Berbatu-batu; f) Daerah perakaran sangat dangkal; g) Iklim tidak sesuai.
7)      Kemampuan Kelas 7
Tanah pada kelas ini mempunyaikombinasi dari hambatan-hambatan sebagai berikut: a) Terletak di lereng curam; b) Telah tererosi sangat berat berupa erosi parit; c) Daerah perakaran snagat dangkal.
Lahan ini pada peta kemampuan lahan ditandai dengan warna coklat. Jika lahan ini digunakan untuk padang rumput atau hutan produksi harus diimbangi dengan usaha pencegahan erosi yang berat.
8)      Kemampuan kelas 8
Lahan yang digolongkan kedalam kelas ini mempunyai kombinasi dari hambatan-hambatan sebagai berikut: a) Terletak pada lereng yang sangat curam; b) Berbatu; c) Mempunyai kapasitas menahan air yang sangat rendah.
Lahan jenis ini cocok digunakan untuk hutan lindung atau cagar alam yang sekaligus dapat berfungsi sebagai tempat rekreasi karena keadaan alamnya yang lebih alami. Sesuai dengan keadaannya lahan ini biasanya ditandai dengan warna putih atau tidak berwarna sama sekali.
3.4 Permintaan Pasar Terhadap Budidaya Tanaman
Hal penting yang sangat mendasar bagi para petani, pedagang, eksportir dan para pelaku lokal lainnya agar berhasil dalam usaha agribisnis adalah mengetahui sifat dasar permintaan (demand) pasar dunia terhadap produk mereka. Sangat penting kepada para produsen diberi informasi tentang sifat-sifat yang sangat spesifik permintaan terhadap tanaman budidaya di Indonesia.
Perlu ditegaskan bahwa pada produk-produk spesialti mutu yang prima akan sangat menentukan premium (tambahan) harga secara substansial di pasar dunia. Sifat dasar permintaan terhadap suatu jenis tanaman budidaya  sangat ditentukan oleh para pembeli yang secara teratur berbelanja di supermarket atau cafe di negara masing-masing, yang pada beberapa saat ini telah terjadi perubahan secara nyata.
Seperti halnya pasar kopi spesialti saat ini sedang tumbuh cepat terutama di negara-negara kaya seperti Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa. Gejala ini juga mulai nampak di beberapa negara lain seperti Korea Selatan, Brasil, Singapura, dan Cina (khususnya di Hongkong).
Akhir-akhir ini tuntutan pilihan para konsumen terhadap produk budidaya tanaman di Indonesia  yang akan mereka beli juga makin berkembang. Mereka tidak sekedar ingin memenuhi kebutuhan dan keinginan akan produk tersebut yang citarasa baik saja, akan tetapi mereka juga sangat mengharapkan adanya jaminan bahwa diproduksi melalui proses yang secara sosial dapat dipertanggungjawabkan.

KESIMPULAN

Pertumbuhan tanaman mulai dari sifat genetik, faktor iklim, tanah dengan pertumbuhan tanaman, pupuk, dan sifat-sifatnya, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, peranan benih dan zat tumbuh, pemasakkan tanaman dalam kaitannya dengan umur panen, pengelolaan lingkungan tanaman, pola tanam serta pengendalian hama, penyakit dan gulma dipelajari di dalam dasar budidaya tanaman.
Factor  iklim sagat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan  tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh keadaan suhu, kelembaban, tanah, intensitas cahaya maupun  serangan organisme perusak tanaman. Perbedaan iklim pada suatu daerah menebabkan perbedaan jenis tanaman yang dapat tumbuh dan berkabang di wilayah tersebut. Tanaman dapat tumbuh dan berkembang pada iklim-iklim tertentu sesuai dengan sifat genetic masing-masing tumbuhan.
Ketinggian tempat menentukan perbedaansuhu, kecepatan angin, kelembaban udara, dan intensitas matahari yang jatuh di permukaan bumu. Semakin tinggi ketinggian tempat maka intensits cahaya matahari yang diterima bumi akan semakin tinggi, tetapi suhu semakin rendah. Sebaliknya semakin rendah ketinggian tempat pada suatu wilayah, maka semakin rendah intensitas cahaya yang diterima oleh biumi, dan kondisi suhu akan semakin meningkat.
Lahan merupakan tempat untuk membudidayakan tanaman. Kesesuaian lahan diperlukan guna mempermudah tanaman dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Kesesuaian lahan harus memperhatikan faktor-faktor tanah, topografi dan drainase guna mempermudah penyesuaian lahan untuk system  irigasi dan pembudidayaan. System irigasi yang baik diperlukan untuk mempertahankan kesuburan tanah, kelembaban tanah, serta mencegah terjadinya erosi yng mengakibatkan kesuburan tanah menjadi berkurang.
Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta oleh sejumlah konsumen pada suatu harga dan waktu tertentu. Permintaan pasar dipengaruhi oleh selera, harga barang itu sendiri, harga barang lain, pendapatan konsumen, jumlah penduduk, dan pikiran harga di masa depan.



DAFTAR PUSTAKA

Anymous. 2010. Budidaya Tanaman. http://smkn1bulakamba.sch.id. Diakses tanggal 5 Maret 2011.
Fahrizal. 2010. Manfaat Informasi Iklim Bagi Pembangunan Pertanian. http:// ardidafa78.multiply.com. Diakses tanggal 5 Maret 2011.
Gunarsih, ance. 1988. Klimatologi. Jakarta; Bina aksara.
Rismunandar. 1983. Membudidayakan Tanaman Buah-buahan. Bandung; Sinar baru.
Sugito, yogi. 1994. Dasar-dasar Agronomi. Malang; Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.









  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

retno narulita mengatakan...

nice :) izin copy buat tugas sekolah ya kaka :)

Fahmiyah S. Izza mengatakan...

ya silahkan :)