RSS

Makalah Dasar Budidaya Tanaman

                                                                                 BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Dasar Budidaya Tanaman merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang pertumbuhan tanaman dari sifat genetik, faktor iklim, tanah dengan pertumbuhan tanaman, pupuk, dan sifat-sifatnya, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, peranan benih dan zat tumbuh, pemasakkan tanaman dalam kaitannya dengan umur panen, pengelolaan lingkungan tanaman, pola tanam serta pengendalian hama, penyakit dan gulma.
     Sistem budidaya tanaman adalah sistem pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam nabati melalui upaya manusia yang dengan modal, teknologi, dan sumberdaya lainnya menghasilkan barang guna memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik.
Kegiatan budidaya termasuk dalam bagian hulu agribisnis. Apabila produk budidaya (hasil panen) dimanfaatkan oleh pengelola sendiri, kegiatan ini disebut pertanian subsistem, dan merupakan kegiatan agribisnis paling primitif. Pemanfaatan sendiri dapat berarti juga menjual atau menukar untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
Dalam arti luas agribisnis tidak hanya mencakup kepada industri makanan saja. Seiring perkembangan teknologi, pemanfaatan produk pertanian berkaitan erat dengan farmasi, teknologi bahan, dan penyediaan energi.
Cakupan obyek pertanian yang dianut di Indonesia meliputi budidaya tanaman (termasuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan), kehutanan, peternakan, dan perikanan. Sebagaimana dapat dilihat, penggolongan ini dilakukan berdasarkan objek budidayanya:
·                     budidaya tanaman, dengan obyek tumbuhan dan diusahakan pada lahan yang diolah secara intensif,
·                     kehutanan, dengan obyek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar,
·                     peternakan, dengan obyek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia),
·                     perikanan, dengan obyek hewan perairan (ikan, amfibia dan semua non-vertebrata).
Pembagian dalam pendidikan tinggi sedikit banyak mengikuti pembagian ini, meskipun dalam kenyataan suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai objek ini bersama-sama sebagai bentuk efisiensi dan peningkatan keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga dipelajari dalam ilmu-ilmu pertanian.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Berikut macam-macam rumusan masalah budidaya tanaman, yaitu:
a.       Bagaimana pengaruh iklim terhadap budidaya tanaman ?
b.      Bagaimana pengaruh ketinggian tempat terhadap budidaya tanaman ?
c.       Apakah kesesuaian lahan berpengaruh terhadap budidaya tanaman ?
d.      Bagaimana permintaan pasar terhadap budidaya tanaman di Indonesia?

1.3  TUJUAN
Tujuan dari budidaya tanaman adalah :
a.       Untuk mengetahui pengaruh iklim terhadap budidaya tanaman.
b.      Untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap budidaya tanaman.
c.       Untuk mengetahui pengaruh kesesuaian lahan terhadap budidaya tanaman.
d.      Untuk mengetahui pengaruh permintaan pasar terhadap budidaya tanaman.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Iklim
Iklim adalah rata-rata keadaan cuaca dalam jangka waktu yang cukup lama, minimal 30 tahun, yang sifatnya tetap. Iklim itu dapat dipandang sebagai kebiasaan- kebiasaan alam yang berlaku yang digerakkan oleh gabungan dari pada unsur-unsur, yaitu : radiasi matahari, temperatur, kelembaban, awan, presifikasi, evaporasi, tekanan udara, angin. (Ance, 1988).
Iklim Indonesia secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.     Daerah yang meliputi sebagian besar pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya diliputi iklim “Tropis”.
b.    Daerah yang meliputi pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang mempunyai dua musim, yaitu musim basah (hujan) dan kering.
Ciri-ciri iklim tropis ialah:
-          Curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, tidak mengenal bulan-bulan yang kering. Curah hujan rata-rata setiap tahunnya lebih dari 3.000 mm.
-          Suhu udara yang rata-rata tinggi merata sepanjang tahun.
Dalam daerah yang mempunyai dua musim yang jelas, dikenalnya bulan-bulan basah dengan curah hujan lebih dari 100 mm/bulan.
2.1.1 Klasifikasi Iklim Berdasar Pertumbuhan Vegetasi
·         Sistem Klasifikasi Koppen
Klasifikasinya berdasarkan pada curah hujan, temperatur, vegetasi yang khusus di daerah. Dari kelas ini dibagi 5 bagian utama dan tiap bagian di bagi dalam sub bagian :
a.       Iklim tipe A           : Iklim hujan tropis
b.      Iklim tipe B           : Iklim kering
c.       Iklim tipe C           : Iklim hujan cukup panas
d.      Iklim tipe D           : Iklim hutan salju dingin
e.       Iklim tipe E           : Iklim kutub
Pada iklim A, C, D terdapat kemungkinan tumbuhnya berjenis-jenis tumbuh – tumbuhan, pada iklim B biasanya sangat baik untuk jenis stepa, sedangkan pada iklim E lumut-lumutan sangat berkembang.
·         Sistem Klasifikasi Scmidth – Ferguson
Prinsip yang digunakannya yaitu dengan mengambil bulan kering dan bulan basah, dengan cara sebagai berikut.
Diambilnya dengan data-data curah hujan untuk 10 tahun, akan tetapi yang diambil dari 10 tahun itu langsung berapa bulan kering dan bulan basah dijumlahkan dan dirata-rata.
Bulan lembab ternyata dalam penggolongan inipun tidak ikut dihitung. Persamaan yang dikemukakan Scmidht adalah sebagai berikut:
                        Jumlah rata-rata bulan kering
Q = _____________________________ X 100 %
                        Jumlah rata-rata bulan basah

·         Sistem Klasifikasi Oldeman
Klasifikasi yang dibuatnya digunakan terutama untuk keperluan pertanian di Indonesia. Dasar yang digunakannya yaitu adanya bulan basah yang berturut-turut dan bulan kering yang berturut-turut pula dimana kesemua ini dihubungkan dengan kebutuhan tanaman padi di sawah serta palawija terhadap air.
Dalam hal penentuan bulan basah dan bulan kering, menurut Oldeman:
-          Bulan basah yaitu suatu bulan dengan curah hujan lebih dari 200 mm.
-          Bulan kering yaitu suatu bulan dengan curah hujan yang kurang dari 100 mm.
Berdasarkan penggolongannya yang menitikberatkan pada bulan basah, Oldeman mengemukakan 5 zona utama bulan basah yang berturut-turut sebagai berikut:
a.       Zona A, bulan basah yang lebih dari 9 kali berturut-turut.
b.      Zona B, bulan basah 7 sampai 9 kali berturut-turut.
c.       Zona C, bulan basah 5 sampai 6 kali berturut-turut.
d.      Zona D, bulan basah 3 sampai 4 kali.
e.       Zona E, bulan basah yang kurang dari 3.
2.1.2 Pengaruh Iklim Terhadap Bidang Pertanian
·         Pengaruh Terhadap Tanah
Tanah yang merupakan modal utama para petani itu keadaannya sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim, yaitu hujan, suhu dan kelembaban, pengaruh-pengaruh tersebut kadang-kadang menguntungkan tetapi sering pula merugikan.
LANG membedakan 2 tipe tanah, yaitu:
a.       Climate soil type, dalam hal ini pembentukan tanah disebabkan karena pengaruh curah hujan dan temperatur.
b.      Aclimate soil type, disini pembentukan tanah bukan disebabkan oleh faktor iklim, melainkan oleh keadaan batuan.
·         Pengaruh Terhadap Tanaman
Pola pertanian, sistem bercocok tanam, sistem pengolahan tanah, pembukaan lahan-lahan pertanian, penggunaan bibit-bibit unggul serta pemberantasan hama dan penyakit tanaman, sangat memperhatikan pengaruh-pengaruh iklim yang berlaku di daerah-daerah, pendekatan dan penyesuaian pun terjadi, sehingga unsur-unsur iklim menjadi sangat bersahabat dalam meningkatkan produksi pertanian.
·         Pengaruh Pada Hama dan Penyakit Tanaman
Pengaruh-pebgaruh iklim yang terdapat di bumi kita (Indonesia), yaitu di satu pihak iklim yang demikian cocok bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman-tanaman sedang di lain pihak unsur-unsur iklim pula yang menjadikan demikian kurangnya unsur-unsur hara dan zat-zat makanan yang tersedia dalam tanah melalui proses pengankutan, telah mendorong berbagai upaya dengan perlakuan-perlakuan yang kerapkali kurang dipikirkan secara matang, agar tanaman tersebut dapat dikembangkan sedemikian rupa.
2.2 Ketinggian Tempat
       2.2.1 Pengaruh Ketinggian Tempat pada Sejumlah Faktor Iklim
Akibat umum dari kenaikan tinggi tempat adalah:
1)    Meningkatkan awan rendah, curah hujan dan kecepatan angin.
2)   Menurunkan intensitas penyinaran dan rentang suhu sebagai akibat dari awan rendah.
3)    Menurunkan suhu maksimum lebih dari suhu minimum.
Dalam kombinasinya, sejumlah perubahan tersebut mengakibatkan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidup tanaman makin lama. Kozhevnikov (1966) membuktikan pengaruh ini pada penelitiannya dengan komoditi gandum musim dingin di Uni Soviet. Dia menanam 114 jenis baru pada ketinggian 22 m, dan 1795 m dpl. Pada ketinggian 22 m gandum membutuhkan antara 204 – 215 hari untuk menyelesaikan daur hidupnya, bandingkan dengan kisaran antara 278 – 342 hari pada ketinggian 1795 m.      
         2.2.2 Elevasi (Tinggi Tempat) di Atas Permukaan Laut (dpl)
Elevasi menentukan perbedaan suhu, kelembaban udara, dan intensitas matahari. Tidak dapat di sangka lagi bahwa elevasi merupakan salah satu faktor ekologi yang juga mempengaruhi diversifikasi tanaman buah-buahan. Tidak semua pohon buah-buahan memerlukan suhu udara atau intensitas sinar matahari yang sama. Misalnya, tanaman kecapi di daerah pegunungan tidak akan berbuah, jeruk pompelmus yang tumbuh di pegunungan akan pahit rasanya, mangga di dataran tinggi tidak akan berbuah. Jelaslah kiranya, bahwa buah tertentu memerlukan intensitas sinar matahari tertentu pula. Bertambah tinggi letaknya suatu daerah bertambah pula intensitas tersebut. Maka akan baiknya bila kita akan menanam suatu jenis pohon buah-buahan, menyelidiki terlebih dahulu faktor-faktor ekologi di lokasi yang bersangkutan. Meneliti pertumbuhan jenis-jenis pohon buah-buahan yang telah ada di bidang pertumbuhan dan produksinya akan memberikan keyakinan yang lebih mantap terhadap rencana kita, bila mana yang akan ditanam, merupakan suatu jenis pohon buah-buahan yang telah ada di lokasi tersebut. Penelitian sebelum perang menghasilkan ditentukannya ketinggian tempat dpl yang ekonomis bagi setiap ph.
2.3. Kesesuaian Lahan
Produktivitas tanaman pangan tergantung pada kualitas lahan yang digunakan. Jika pada pemilihan lahan pada awal pembangunan tanaman areal-areal yang tidak produktif tidak disisihkan, maka kerugian (finansial) yang cukup besar akan terjadi nantinya.

2.3.1 Evaluasi Lahan untuk Irigasi
Pembangunan sistem irigasi diperlukan terutama untuk daerah-daerah dimana air merupakan pembatas utama bagi pengembangan pertanian. Di samping itu pembangunan sistem irigasi sangat diperlukan untuk peningkatan intensitas penggunaan lahan baik untuk tanaman palawija maupun padi sawah.
Evaluasi lahan untuk irigasi terutama bertujuan untuk menetapkan penggunaan tanah dan air secara tepat meliputi perencanaan sistem jaringan irigasi, kebutuhan air untuk irigasi, luas usaha tani  serta operasi dan pemeliharaannya.   Dalam hal ini perlu diperhatikan antara lain sifat-sifat lahan, luas lahan yang diairi, letak dan jumlah sumber air yang tersedia, biaya yang diperlukan dan sebagainya. Hasil-hasil survei tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk evaluasi yang dimaksud.
Faktor-faktor yang dinilai dalam klasifikasi kesesuaian lahan untuk irigasi meliputi faktor-faktor tanah, topografi dan drainase.  Faktor-faktor yang berkaitan dengan ekonomi tidak dinilai secara khusus tetapi diperhatikan secara kualitatif.
 2.3.2 Kelas Kesesuaian Lahan untuk Irigasi 
Dengan memperhatikan kerangka evaluasi FAO (1976) dan sistem USBR (1953) klasifikasi kesesuaian lahan untuk irigasi dibedakan ke dalam :
·         Kelas  1  = Sangat sesuai 
·         Kelas  2  = Cukup sesuai
·         Kelas  3  = Agak sesuai
·         Kelas  4  = Sesuai marginal
·         Kelas  5  = Sementara tidak sesuai
·         Kelas  6  = Tidak sesuai selamanya
Subkelas  : Dibedakan dengan jenis faktor penghambatnya dalam       masing-masing kelas.  
Unit         : Dibedakan dengan jenis faktor penghambat dalam  masing-         masing subkelas. 
Untuk pemetaan tanah semi detail (1 : 50 000) klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan sampai tingkat subkelas. 
Lahan Kelas 1, 2, 3  merupakan lahan yang sesuai untuk irigasi dengan kelas kesesuaian lahan yang berturut-turut semakin rendah karena besarnya faktor penghambat yang semakin meningkat. Lahan Kelas 4 merupakan  lahan yang sesuai untuk irigasi dengan pengelolaan khusus.  Hambatan-hambatan yang ditemukan pada lahan ini untuk penggunaan khusus, secara ekonomis masih dapat diatasi. Lahan Kelas 5 merupakan pengkelasan sementara, dimana pada saat survei dilakukan lahan tidak sesuai untuk irigasi, tetapi dengan usaha-usaha tertentu diperkirakan dapat menjadi lahan yang sesuai.  Perlu penelitian lebih lanjut apakah usaha-usaha perbaikan tersebut secara ekonomis masih dapat diatasi.
Lahan Kelas 5 dapat mempunyai penghambat khusus seperti salinitas yang tinggi, topografi berbukit, hamparan batuan atau laterit pada kedalaman kurang dari 150 cm, dsb.  Termasuk juga lahan Kelas 5 adalah lahan yang sesuai untuk pertanian tetapi merupakan daerah sempit yang terisolasi dalam lahan yang sesuai untuk pertanian.  Demikian juga lahan yang sesuai untuk pertanian tetapi terletak pada tempat yang lebih tinggi dari sumber air sehingga dengan sistem irigasi gravitasi tidak mungkin diairi.  Apabila irigasi dilakukan dengan pompa lahan ini  dapat menjadi lahan yang sesuai  untuk irigasi.
 Lahan Kelas 5 untuk irigasi dipisahkan hanya bila kondisi daerah memerlukan pertimbangan lebih lanjut tentang lahan dalam hubungannya dengan proyek irigasi misalnya :  jika persediaan air masih cukup banyak atau kekurangan jumlah lahan yang baik diperlukan, mendesaknya rehabilitasi atau pemukiman kembali dan sebagainya. Lahan Kelas 5 merupakan kelas sementara, dan berdasarkan penelaahan lebih lanjut tentang kemungkinan perbaikan secara ekonomis, kelas kesesuaian lahan ini dapat berubah menjadi lahan sesuai atau lahan tidak sesuai selamanya (Kelas 6). 
 Lahan Kelas 6 merupakan lahan yang tidak sesuai selamanya untuk pertanian irigasi.  Hambatan-hambatan yang ditemukan, secara ekonomis dan fisik tidak dapat diatasi. Lahan Kelas 6 umumnya terdiri dari lahan yang curam, bergunung, tererosi berat, tekstur sangat kasar, tanah dangkal di atas kerikil, napal (shale), batu pasir, atau lahan yang berdrainase sangat buruk ataupun terlalu sering kebanjiran (flood) yang  secara ekonomis tidak dapat diperbaiki.
2.4 Permintaan Pasar
Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu.
2.4.1 Fungsi Permintaan Pasar
Fungsi permintaan pasar akan sebuah produk akan menunjukkan hubungan antara jumlah produk yang akan diminta dengan semua faktor yang mempengaruhi permintaan tersebut.

2.4.2 Variabel penentu permintaan
·           Variabel strategis adalah harga barang yang bersangkutan, advertensi, kualitas dan desain barang, serta saluran distribusi barang.
·           Variabel konsumen adalah tingkat pendapatan, selera konsumen, dan harapan konsumen terhadap harga dimasa yang akan datang.
2.4.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Permintaan
·            Harga Barang itu Sendiri
Harga barang akan memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika harga naik jumlah permintaan barang tersebut akan meningkat, sedangkan jika harga turun maka jumlah permintaan barang akan menurun.
·            Harga Barang Subtitusi (Pengganti)
Harga barang dan jasa pengganti (substitusi) ikut memengaruhi jumlah barang dan jasa yang diminta. Apabila harga dari barang substitusi lebih murah maka orang akan beralih pada barang substitusi tersebut. Akan tetapi jika harga barang substitusi naik maka orang akan tetap menggunakan barang yang semula. Contohnya pada saat beras naik sangat tinggi, maka masyarakat yang tidak mampu akan beralih membeli jagung sebagai pengganti beras.


·            Harga Barang Komplementer (Pelengkap)
Barang pelengkap juga dapat memengaruhi permintaan barang/jasa. Misalnya sepeda motor, barang komplementernya bensin. Apabila harga bensin naik, maka kecenderungan orang untuk membeli sepeda motor akan turun, begitu juga sebaliknya.
·            Pendapatan
Besar kecilnya pendapatan yang diperoleh seseorang turut menentukan besarnya permintaan akan barang dan jasa. Apabila pendapatan yang diperoleh tinggi maka permintaan akan barang dan jasa juga semakin tinggi. Sebaliknya jika pendapatannya turun, maka kemampuan untuk membeli barang juga akan turun. Akibatnya jumlah barang akan semakin turun. Misalnya pendapatan Ibu Tia dari hasil dagang minggu pertama Rp200.000,00 hanya dapat untuk membeli kopi 20 kg. Tetapi ketika hasil dagang minggu kedua Rp400.000,00, Ibu Tia dapat membeli kopi sebanyak 40 kg.
·            Selera Konsumen
Selera konsumen terhadap barang dan jasa dapat memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika selera konsumen terhadap barang tertentu meningkat maka permintaan terhadap barang tersebut akan meningkat pula. Misalnya, sekarang ini banyak orang yang mencari hand phone yang dilengkapi fasilitas musik dan game, karena selera konsumen akan barang tersebut tinggi maka permintaan akan hand phone yang dilengkapi musik dan game akan meningkat.
·            Intensitas Kebutuhan Konsumen
Intensitas kebutuhan konsumen berpengaruh terhadap jumlah barang yang diminta. Kebutuhan terhadap suatu barang atau jasa yang tidak mendesak, akan menyebabkan permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa tersebut rendah. Sebaliknya jika kebutuhan terhadap barang atau jasa sangat mendesak maka permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa tersebut menjadi meningkat, misalnya dengan meningkatnya curah hujan maka intensitas kebutuhan akan jas hujan semakin meningkat. Konsumen akan bersedia membeli jas hujan hingga Rp25.000,00 walaupun kenyataannya harga jas hujan Rp15.000,00.
·            Perkiraan Harga di Masa Depan
Apabila konsumen memperkirakan bahwa harga akan naik maka konsumen cenderung menambah jumlah barang yang dibeli karena ada kekhawatiran harga akan semakin mahal. Sebaliknya apabila konsumen memperkirakan bahwa harga akan turun, maka konsumen cenderung mengurangi jumlah barang yang dibeli. Misalnya ada dugaan kenaikan harga bahan bakar minyak mengakibatkan banyak konsumen antri di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) untuk mendapatkan bensin atau solar yang lebih banyak.
·            Jumlah Penduduk
Pertambahan penduduk akan memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika jumlah penduduk dalam suatu wilayah bertambah banyak, maka barang yang diminta akan meningkat.
2.4.4 Macam-Macam Permintaan
Permintaan dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, antara lain permintaan berdasarkan daya beli dan jumlah subjek pendukung.


a.    Permintaan Menurut Daya Beli
Berdasarkan daya belinya, permintaan dibagi menjadi tiga macam, yaitu permintaan efektif, permintaan potensial, dan permintaan absolut.

1)  Permintaan efektif adalah permintaan masyarakat terhadap suatu barang atau jasa yang disertai dengan daya beli atau kemampuan membayar. Pada permintaan jenis ini, seorang konsumen memang membutuhkan barang itu dan ia mampu membayarnya.

2) Permintaan potensial adalah permintaan masyarakat terhadap suatu barang dan jasa yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk membeli, tetapi belum melaksanakan pembelian barang atau jasa tersebut. Contohnya Pak Luki sebenarnya mempunyai uang yang cukup untuk membeli kulkas, namun ia belum mempunyai keinginan untuk membeli kulkas.

3) Permintaan absolut adalah permintaan konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang tidak disertai dengan daya beli. Pada permintaan absolut konsumen tidak mempunyai kemampuan (uang) untuk membeli barang yang diinginkan. Contohnya Hendra ingin membeli sepatu olahraga. Akan tetapi uang yang dimiliki Hendra tidak cukup untuk membeli sepatu olahraga. Oleh karena itu keinginan Hendra untuk membeli sepatu olahraga tidak bisa terpenuhi.

b.      Permintaan Menurut Jumlah Subjek Pendukungnya
Berdasarkan jumlah subjek pendukungnya, permintaan terdiri atas permintaan individu dan permintaan kolektif.

1 ) Permintaan individu
Permintaan individu adalah permintaan yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contoh bentuk permintaan individu seperti pada Tabel 17.1 mengenai daftar permintaan jeruk Desi.

2 ) Permintaan kolektif
Permintaan kolektif atau permintaan pasar adalah kumpulan dari permintaan-permintaan perorangan/individu atau permintaan secara keseluruhan para konsumen di pasar. Contohnya, selain Desi, di pasar juga ada beberapa pembeli lainnya yang akan membeli jeruk. Jika permintaan Desi dan teman-temannya tersebut digabungkan maka terbentuk permintaan pasar. Bentuk permintaan kolektif dapat kalian lihat pada Tabel 1.






Tabel 1. Daftar Permintaan Pasar terhadap Jeruk








BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengaruh Iklim Terhadap Budidaya Tanaman
     Iklim merupakan salah satu komponen ekosistem (bio-fisik) yang proses dan dinamikanya dipengaruhi oleh faktor global dan berada di luar atmosfer. Secara teknis dalam budidaya tanaman, hampir semua unsur iklim berpengaruh terhadap produksi dan pengelolaan tanaman. Namun masing-masing mempunyai pengaruh dan peran yang berbeda teradap berbagai aspek dalam budidaya tanaman. Sedangkan secara konseptual, pendekatan dan informasi iklim dalam pembangunan pertanian berkaitan dengan 5 aspek atau kegiatan (Las, Fagi & Pasandaran, 1999 dalam Surmaini, dkk.), yaitu :
·       pengembangan wilayah dan komoditas pertanian seperti kesesuaian lahan, perencanaan tata ruang, pemwilayahan agroekologi dan komoditi, sistem informasi geografi (GIS) dan lain-lain
·       perencanaan kegiatan operasional (budidaya) pertanian, seperti perencanaan pola tanam, pengairan, pemupukan, PHT (pengendalian hama terpadu), panen, dan lain-lain
·       peramalan dan analisis sistem pertanian, seperti daya dukung lahan, ramalan produksi, pendugaan potensi hasil dan produktivitas pertanian
·       pengelolaan dan konservasi lahan (tanah dan air)
·       menunjang kegiatan penelitian komoditas dan sumberdaya lahan serta pengkajian teknologi pertanian, terutama dalam merumuskan atau menyimpulkan hasilnya.

Informasi iklim sangat dibutuhkan dalam mengidentifikasi potensi dan daya dukung wilayah untuk penetapan strategi dan arah kebijakan pengembangan wilayah, seperti pola tanam, cara pengairan, pemwilayahan agroekologi, dan komoditi.  Pemilihan wilayah lahan komoditi pertanian dapat disusun berdasarkan agroklimat, karena tiap jenis tanaman mempunyai persyaratan tumbuh tertentu untuk berproduksi optimal. Suatu tanaman yang tumbuh, berkembang dan berproduksi optimal secara terus-menerus memerlukan kesesuaian iklim. Kondisi kesesuaian tersebut memungkinkan suatu wilayah untuk dikembangkan menjadi pusat produksi suatu komoditi pertanian.  Kajian sumberdaya agroklimat pada strata ini harus sejajar dan padu dengan kajian tanah, sosial ekonomi dan faktor produksi lainnya.
Keadaan iklim aktual (cuaca) pada periode tertentu sangat menentukan pola tanam, jenis komoditi, teknologi usahatani, pertumbuhan, produksi tanaman, serangan hama/penyakit dan lain-lainnya.  Apalagi sistem usahatani pada lahan kering, berbagai unsur iklim terutama pola dan distribusi curah hujan sangat dominan teradap produksi.
3.2 Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kondisi iklim, baik dari segi suhu, kelembaban udara maupun curah hujan, yang selanjutnya mempengaruhi vegetasi yang ada. Masing-masing zona ketinggian tempat memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik dari segi floristik, komposisi maupun struktur.
Ketinggian tempat adalah ketinggian dari permukaan air laut (elevasi). Ketinggian tempat mempengaruhi perubahan suhu udara. Semakin tinggi suatu tempat, misalnya pegunungan semakin rendah suhu udaranya atau udaranya semakin dingin. Sebaliknya, semakin rendah daerahnya semakin tinggi suhu udaranya atau udaranya semakin panas. Oleh karena itu, ketinggian suatu tempat berpengaruh terhadap suhu suatu wilayah. Perbedaan regional dalam topografi, geografi dan cuaca menyebabkan terjadinya perbedaan dalam tanaman, pola tanam, metode bercocok tanam dan situasi sosio-ekonomi. Pola tanam dari beberapa tanaman yang ditanam terus-menerus serta keadaan iklim yang cocok akan meningkatkan serangan hama, penyakit, dan gulma.
Tinggi tempat dari permukaan laut menentukan suhu udara dan intensitas sinar yang diterima oleh tanaman. Semakin tinggi suatu tempat semakin rendah suhu tempat tersebut. Demikian juga intensitas matahari semakin  berkurang. Suhu dan penyinaran inilah yang nantinya akan digunakan untuk menggolongkan tanaman apa yang sesuai untuk dataran tinggi atau dataran rendah. Ketinggian tempat dari permukaan laut juga sangat menentukan pembungaan tanaman. Tanaman berbuahan ditanam di dataran rendah berbunga lebih awal dibandingkan dengan yang ditanam pada dataran tinggi. Faktor lingkungan akan mempengaruhi proses-proses fisiologi dalam tanaman. Semua proses fisiologi akan dipengaruhi oleh suhu dan beberapa proses akan tergantung dari cahaya.
Bumi memiliki permukaan yang tidak rata, hal tersebut dibuktikan dengan adanya daerah pegunungan, perbukitan, pantai, lautan, dan sebagainya. Berdasarkan variasi ketidakrataan permukaan daratan, wilayah daratan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
1)    Daerah dataran rendah merupakan daerah yang berada pada ketinggian tempat < 400 m di atas permukaan laut (dpl). Topografinya cenderung rata, suhu udara di daerah dataran rendah biasanya cukup tinggi ≥ 27 – 33°C
2)    Daerah dataran medium merupakan daerah yang berada pada ketinggian tempat antara 400 – 700 m dpl. Untuk topografinya berbukit namun relatif rata, suhu udaranya cukup panas tapi tidak sepanas daerah dataran rendah berkisar antara 22 – 27°C
3)    Daerah dataran tinggi yaitu kelompok wilayah yang berada pada ketinggian di atas 700 m dpl. Sekitar 20% topografinya berbukit, dengan suhu udara ≤ 20°C maka dataran tinggi terasa lebih dingin dibandingkan dengan dataran rendah dan medium, tanahnya pun cukup subur dan cocok untuk ditanami sayuran.
Perbedaan ketinggian tempat tersebut mengakibatkan terjadinya peningkatan unsur-unsur cuaca atau iklim, terutama unsur suhu udara, kelembaban udara maupun hujan. Sedangkan akbibat umum dari kenaikan tinggi tempat adalah meningkatkan awan rendah, curah jujan adan kecepatan angin, menurunkan intensitas penyinaran dan rentang suhu sebagai akibat dari awan rendah, menurunkan suhu maksimun lebih dari suhu minimun.
3.3 Kesesuaian Lahan
Kesesuaian lahan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman budidaya. Apabila lahan tidak cocok dengan tanaman budidaya yang ditanam akan mengakibatkan tanaman budidaya yang ditanam mati. Penggunaan lahan untuk berbagai kelas kemampuan lahan tentu berbeda satu sama lain. Perbedaan didasarkan pada kekuatan faktor penghambat yang meningkat, pengaruh bersama antar berbagai unsur lahan seperti iklim dan sifat-sifat tanah yang permanen. Sifat-sifat tanah yang permanen diantaranya adalah ancaman kerusakan tanah, faktor pembatas penggunaan, kemampuan produksi, dan syarat-syarat pengelolaan tanah. Sifat-sifat lahan yang permanen diantaranya lereng, tekstur tanah, kedalaman tanah, tingkat erosi tanah yang telah terjadi, permeabilitas tanah, kemampuan menahan air, dan jenis mineral liat.
Ada delapan kelas lahan berdasarkan kemampuannya, yaitu :
1)    Kemampuan Kelas 1
Kemampuan lahan kelas I merupakan kelas kemampuan lahan yang terbaik. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya hambatan yang membatasi penggunannya. Lahan yang tergolong dalam kemampuan lahan kelas I mempunyai kombinasi sifat-sifat dan kualitas sebagai berikut: (a) Terletak pada topografi hampir datar; (b) Ancaman erosi kecil; (c) Mempunyai kedalaman efektif (tanah yang mengandung unsur hara) yang dalam; (d) Umumnya berdrainase baik; (e) Mudah diolah; (f) Kapasitas menahan air baik (g) Subur atau peka terhadap pemupukan (h) Tidak terancam banjir; (i) Di bawah iklim setempat yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman umumnya.
Lahan Kelas I dapat digunakan untuk semua jenis penggunaan, mulai dari pertanian yang sangat intensif untuk tanaman semusim dan tahunan sampai penggunaan untuk hutan lindung. Walaupun demikian, jenis tanah ini tetap memerlukan tindakan untuk mempertahankan produktivitas berupa pemeliharaan kesuburan dan struktur tanah.Upaya ini meliputi pemupukan baik dengan pupuk buatan maupun pupuk organik, pergiliran tanaman dan penggunaan tanaman penutup tanah. Pada peta kemampuan lahan kelas, kelas ini biasanya ditandai dengan warna hijau.
2)      Kemampuan kelas 2
Lahan kelas II mempunyai kombinasi sifat-sifat dan kualitas sebagai berikut: a) Lereng landai, kemiringan kurang dari 30%; b) Kepekaan erosi atau ancaman erosi sedang atau telah mengalami erosi sedang; c) Kedalaman efektif agak dalam; d) Struktur tanah dan daya olah tanah kurang baik; e) Salinitas ringan sampai sedang atau terdapat garamnatrium yang mudah dilihilangkan, tetapi besar kemungkinan timbul kembali; f) Kadang-kadang terkena banjir yang merusak; g) Kelebihan air dapat diperbaiki dengan drainase; h) Keadaan iklim agak kurang sesuai dengan tanaman dan pengelolaan.
Tanah pada kemampuan lahan kelas II menuntut sistem pengelolaan yang lebih berat dibandingkan lahan kelas I. Lahan pada kelas ini mempunyai beberapa hambatan atau ancaman kerusakan sehingga mengurangi pilihan penggunaannya dan memerlukan tindakan konservasi sedang. Jika dipergunakan untuk tanaman semusim, selain pemupukan, tanah kelas II memerlukan tindakan konservasi seperti pembuatan guludan, penanaman dalam setrip, pengolahan menurut kontur, dan pergiliran tanaman. Dalam peta kemampuan lahan kelas II biasanya ditandai dengan warna kuning.
3)      Kemampuan Kelas 3
Lahan yang dikelompokkan pada kelas III mempunyai hambatan yang lebih berat dibandingkan lahan kelas II. Lahan pada kelas ini tidak dapat digunakan untuk sistem pertanian yang sangat insentif. Pada lahan ini hanya dapat diterapkan mulai penggarapan secara sedang dan seterusnya sampai penggunaan untuk cagar alam. Lahan kelas III ini masih dapat dipergunakan untuk tanaman semusim dan tanaman yang memerlukan pengolahan tanah, tetapi harus dibarengi oleh konservasi. Jenis upaya konservasi dapat berupa guludan bersaluran, penanaman dalam setrip, penggunaan mulsa, pergiliran tanaman, pembuatan teras, atau kombinasi dari usaha konservasi tersebut. Pada peta kemampuan lahan, kelas ini ditandai dengan warna merah.
Tanah pada kelas kemampuan III memiliki sifat-sifat sebagai berikut: a) Lereng miring atau bergelombang, kemiringan kurang dari 50%; b) Peka terhadap erosi atau telah mengalami erosi yang agak berat; c) Sering kali mengalami banjir yang merusak tanaman; d) Permeabilitas lapisan bawah tanah tergolong lambat; e) Kedalamannya dangkal terhadap batuan,lapisan padas keras, lapisan pada rapuh, atau lapisan liat padat yang membatasi perakaran dan simpanan air; f) Terlalu basah atau masih terus jenuh air setelah didrainase; g) Kapasitas menahan air rendah; h) Salinitas atau kandungan natrium sedang; i) Hambatan iklim agak besar.
4)      Kemampuan Kelas 4
Tanah pada kelas IV tidak dapat digunakan untuk sistem pertanian intensif dan garapan sedang. Tanah pada kelas IV hanya dapat digarap secara terbatas, untuk penggembalaan insentif sampai hutan lindung. Selain perlakukan untuk upaya memelihara kesuburan tanah dan kondisi fisik tanah, pada lahan kelas ini juga dilakukan pembuatan teras bangku, saluran bervegetasi, dan dam penahan. Pada peta, kemampuan lahan kelas IV ditandai dengan warna biru.
Tanah pada kelas IV mempunyai kombinasi dari sifat-sifat sebagai berikut: a) Lereng curam atau berbukit, kemiringan lebih dari 50%; b) Kepekaan erosi; c) Pengaruh bekas erosi agak berat; d) Tanah dangkal; e) Kapasitas menahan air rendah; f) Sering digenangi air sehingga menimbulkan kerusakan berat pada tanaman; g) Kelebihan air bebas dan ancaman penjenuhan atau penggenangan terus terjadi setelah drainase; h) Salinitas atau kandungan natrium tinggi; i) Keadaan iklim kurang menguntungkan.
5)      Kemampuan Kelas 5
Lahan pada kelas V mempunyai kombinasi dari hambatan-hambatan sebagai berikut: a) Tergenang air; b) Sering terlanda banjir; c) Berbatu-batu; d) Iklim kurang sesuai.
Kondisi lahan seperti ini biasanya tidak dapat ditanami tanaman semusim, tetapi masih dapat ditumbuhi rumput atau pepohonan. Lahan pada kelas ini tidak cocok untuk digarap. Pada peta kemampuan lahan, kelas ini biasanya tanah ini ditandai dengan warna hijau tua.
6)      Kemampuan Kelas 6
Kemampuan lahan kelas VI mempunyai kombinasi dari sifat-sifat sebagai berikut: a) Terletak di lereng yang agak curam; b) Ancaman erosi berat; c) Telah tererosi berat; d) Mengandung garam laut atau natrium; e) Berbatu-batu; f) Daerah perakaran sangat dangkal; g) Iklim tidak sesuai.
7)      Kemampuan Kelas 7
Tanah pada kelas ini mempunyaikombinasi dari hambatan-hambatan sebagai berikut: a) Terletak di lereng curam; b) Telah tererosi sangat berat berupa erosi parit; c) Daerah perakaran snagat dangkal.
Lahan ini pada peta kemampuan lahan ditandai dengan warna coklat. Jika lahan ini digunakan untuk padang rumput atau hutan produksi harus diimbangi dengan usaha pencegahan erosi yang berat.
8)      Kemampuan kelas 8
Lahan yang digolongkan kedalam kelas ini mempunyai kombinasi dari hambatan-hambatan sebagai berikut: a) Terletak pada lereng yang sangat curam; b) Berbatu; c) Mempunyai kapasitas menahan air yang sangat rendah.
Lahan jenis ini cocok digunakan untuk hutan lindung atau cagar alam yang sekaligus dapat berfungsi sebagai tempat rekreasi karena keadaan alamnya yang lebih alami. Sesuai dengan keadaannya lahan ini biasanya ditandai dengan warna putih atau tidak berwarna sama sekali.
3.4 Permintaan Pasar Terhadap Budidaya Tanaman
Hal penting yang sangat mendasar bagi para petani, pedagang, eksportir dan para pelaku lokal lainnya agar berhasil dalam usaha agribisnis adalah mengetahui sifat dasar permintaan (demand) pasar dunia terhadap produk mereka. Sangat penting kepada para produsen diberi informasi tentang sifat-sifat yang sangat spesifik permintaan terhadap tanaman budidaya di Indonesia.
Perlu ditegaskan bahwa pada produk-produk spesialti mutu yang prima akan sangat menentukan premium (tambahan) harga secara substansial di pasar dunia. Sifat dasar permintaan terhadap suatu jenis tanaman budidaya  sangat ditentukan oleh para pembeli yang secara teratur berbelanja di supermarket atau cafe di negara masing-masing, yang pada beberapa saat ini telah terjadi perubahan secara nyata.
Seperti halnya pasar kopi spesialti saat ini sedang tumbuh cepat terutama di negara-negara kaya seperti Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa. Gejala ini juga mulai nampak di beberapa negara lain seperti Korea Selatan, Brasil, Singapura, dan Cina (khususnya di Hongkong).
Akhir-akhir ini tuntutan pilihan para konsumen terhadap produk budidaya tanaman di Indonesia  yang akan mereka beli juga makin berkembang. Mereka tidak sekedar ingin memenuhi kebutuhan dan keinginan akan produk tersebut yang citarasa baik saja, akan tetapi mereka juga sangat mengharapkan adanya jaminan bahwa diproduksi melalui proses yang secara sosial dapat dipertanggungjawabkan.

KESIMPULAN

Pertumbuhan tanaman mulai dari sifat genetik, faktor iklim, tanah dengan pertumbuhan tanaman, pupuk, dan sifat-sifatnya, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, peranan benih dan zat tumbuh, pemasakkan tanaman dalam kaitannya dengan umur panen, pengelolaan lingkungan tanaman, pola tanam serta pengendalian hama, penyakit dan gulma dipelajari di dalam dasar budidaya tanaman.
Factor  iklim sagat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan  tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh keadaan suhu, kelembaban, tanah, intensitas cahaya maupun  serangan organisme perusak tanaman. Perbedaan iklim pada suatu daerah menebabkan perbedaan jenis tanaman yang dapat tumbuh dan berkabang di wilayah tersebut. Tanaman dapat tumbuh dan berkembang pada iklim-iklim tertentu sesuai dengan sifat genetic masing-masing tumbuhan.
Ketinggian tempat menentukan perbedaansuhu, kecepatan angin, kelembaban udara, dan intensitas matahari yang jatuh di permukaan bumu. Semakin tinggi ketinggian tempat maka intensits cahaya matahari yang diterima bumi akan semakin tinggi, tetapi suhu semakin rendah. Sebaliknya semakin rendah ketinggian tempat pada suatu wilayah, maka semakin rendah intensitas cahaya yang diterima oleh biumi, dan kondisi suhu akan semakin meningkat.
Lahan merupakan tempat untuk membudidayakan tanaman. Kesesuaian lahan diperlukan guna mempermudah tanaman dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Kesesuaian lahan harus memperhatikan faktor-faktor tanah, topografi dan drainase guna mempermudah penyesuaian lahan untuk system  irigasi dan pembudidayaan. System irigasi yang baik diperlukan untuk mempertahankan kesuburan tanah, kelembaban tanah, serta mencegah terjadinya erosi yng mengakibatkan kesuburan tanah menjadi berkurang.
Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta oleh sejumlah konsumen pada suatu harga dan waktu tertentu. Permintaan pasar dipengaruhi oleh selera, harga barang itu sendiri, harga barang lain, pendapatan konsumen, jumlah penduduk, dan pikiran harga di masa depan.



DAFTAR PUSTAKA

Anymous. 2010. Budidaya Tanaman. http://smkn1bulakamba.sch.id. Diakses tanggal 5 Maret 2011.
Fahrizal. 2010. Manfaat Informasi Iklim Bagi Pembangunan Pertanian. http:// ardidafa78.multiply.com. Diakses tanggal 5 Maret 2011.
Gunarsih, ance. 1988. Klimatologi. Jakarta; Bina aksara.
Rismunandar. 1983. Membudidayakan Tanaman Buah-buahan. Bandung; Sinar baru.
Sugito, yogi. 1994. Dasar-dasar Agronomi. Malang; Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.









Read More..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fase Mitosis Akar Bawang (Alium cepa)


Mitosis adalah pembelahan sel yang terjadi secara tidak langsung (Setjo, 2004). Hal ini dikarenakan pada pembelahan sel secara mitosis terdapat adanya tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan (fase-fase) yang terdapat pada pembelahan mitosis ini meliputi: profase, metafase, anafase, dan telofase.
Mitosis terjadi di dalam sel somatik yang bersifat meristematik, yaitu sel-sel yang hidup terutama sel-sel yang sedang tumbuh (ujung akar dan ujung batang). Proses pembelahan secara mitosis menghasilkan dua sel anak yang identik dan bertujuan untuk mempertahankan pasangan kromosom yang sama melalui pembelahan inti secara berturut-turut.
 
Mitosis pada tumbuhan terjadi selama mulai dari 30 menit sampai beberapa jam dan merupakan bagian dari suatu proses yang berputar dan terus-menerus. Pada praktikum kali ini digunakan akar bawang merah (Allium cepa) karena jaringan akar bawang merah (Allium cepa) merupaskan jaringan yang mudah ditelaah untuk pengamatan mitosis (Sugiri, 1992).
Proses mitosis ini terjadi bersama dengan pembelahan sitoplasma dan bahan-bahan di luar inti sel. Pada mitosis setiap induk yang diploid (2n) akan menghasilkan dua buah sel anakan yang masing-masing tetap diploid serta memiliki sifat keturunan yang sama dengan sel iduknya.
Urut-urutan terjadinya mitosis adalah sebagai berikut:
1. Profase
Proses terjadinya fase profase ditandai dengan hilangnya nucleus dan diganti dengan mulai tampaknya pilinan-pilinan kromosom yang terlihat tebal.
2. Metafase
Ciri utama fase ini adalah terbentuknya gelendong pembelahan, gelendong pembelahan ini dibentuk oleh mikrotubula. Gelendong ini membentuk kutub-kutb pembelahan tempat sentromer mikrotubula bertumpu.
3. Anafase
Pada fase ini kromosom yang mengumpul di tengah sel terpisah dan mengumpul pada masing-masing kutub, sehingga telihat adal dua kumpulan kromosom.
4. Telofase
Telofase adalah fase finisiong, dalam telofase ada dua tahap yaitu telofase awal dan telofase akhir. Pada telofase awal terlihat mulai ada sekat yang memisahkan antara sel-sel anak. Sedang pada telofase akhir terlihat sel-sel anak sudah benar-benar terpisah.
Read More..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anatomi Tubuh Manusia

Anatomi Tubuh Manusia disusun kedalam beberapa bagian sistem tubuh, yaitu:
1. Sistem Kerangka
Kerangka tubuh manusia terdiri dari susunan berbagai macam tulang yang satu sama lainnya saling berhubungan, terdiri dari:
  • Tulang kepala: 8 buah
  • Tulang kerangka dada: 25 buah
  • Tulang wajah: 14 buah
  • Tulang belakang dan pinggul: 26 buah
  • Tulang telinga dalam: 6 buah
  • Tulang lengan: 64 buah
  • Tulang lidah: 1 buah Tulang kaki: 62 buah
Fungsi kerangka antara lain:
  • menahan seluruh bagian-bagian tubuh agar tidak rubuh
  • melindungi alat tubuh yang halus seperti otak, jantung, dan paru-paru
  • tempat melekatnya otot-otot
  • untuk pergerakan tubuh dengan perantaraan otot
  • tempat pembuatan sel-sel darah terutama sel darah merah
  • memberikan bentuk pada bangunan tubuh buah
Gelang bahu yaitu persendian yang menghubungkan lengan dengan badan. Pergelangan ini mempunyai mangkok sendi yang tidak sempurna oleh karena bagian belakangnya terbuka.
tl-bahu.jpg 
Gelang bahu terdiri atas tulang selangka yang melengkung berupa huruf S, dan tulang belikat yaitu sebuah tulang ceper berbentuk segi tiga.
Gelang bahu berhubungan dengan rangka batang badan hanya pada satu tempat saja. Ujung sebelah tengah tulang selangka dihubungkan dengan pinggir atas tulang dada oleh sendi dada-selangka. Ujung sebelah luar tulang selangka berhubungan dengan dengan sebuah taju tulang belikat (ujung bahu) dengan perantaraan sendi akromioklavikula.
Sendi lutut
sendi-lutut.jpg 
Ujung bawah tulang paha mempunyai dua buah benjol sendi yang bertopang pada bidang atas tulang kering. Dengan demikian terbentuklah sebuah sendi yang dinamakan sendi lutut. Pada dinding depan sendi lutut terdapat tempurung lutut.

2. Sistem Otot
otot-punggung.jpgOtot punggung sejati merupakan dua buah jurai yang amat rumit susunannya, terletak di sebelah belakang kanan dan kiri tulang belakang, mengisi ruang antara taju duri dan taju lintang. Otot-otot punggung sejati itu hampir sama sekali tertutup oleh otot-otot punggung sekunder yang sebenarnya termasuk otot-otot anggota gerak atas dan bawah. Kedua jurai otot tersebut dinamakan penegak batang badan dan amat penting artinya untuk sikap dan gerakan tulang belakang.
3. Sistem Peredaran darah
Jantung berbentuk runjung yang terbalik letaknya. Letak jantung dalam tubuh sedemikian rupa sehingga ujung runjung tersebut (ujung jantung) mengarah ke bawah, ke depan dan ke kiri. Basis jantung mengarah ke atas, ke belakang dan sedikit ke kanan. Pada basis jantung inilah berhimpun aorta, batang nadi paru-paru, batang pembuluh balik atas dan bawah beserta ke dua (atau empat pembuluh balik paru-paru).
jantung.jpgBagian dalam jantung terdiri atas 4 ruang: serambi kiri, bilik kiri, serambi kanan dan bilik kanan. Serambi kiri dan bilik kiri satu sama lain berhubungan, demikian juga serambi kanan dan bilik kanan. Bagian kiri jantung dipisahkan dari bagian kanan oleh sekat rongga jantung.

4. Sistem pernapasan
Paru - paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung (gelembung hawa/alveoli). Gelembung-gelembung hawa terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Banyaknya gelembung paru-paru kurang lebih 700.000.000 buah (paru-paru kanan dan kiri).
Paru-paru terletak pada rongga dada. Pada rongga dada tengah terletak paru-paru sedangkan pada rongga dada depan terletak jantung.
paru-paru.jpg 
Paru-paru terdiri dari dua bagian yaitu paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Paru-paru kanan terbagi atas tiga belah paru (lobus) yaitu belah paru atas, belah paru tengah dan belah paru bawah. Paru-paru kiri terbagi atas dua belah paru yaitu belah paru atas dan belah paru bawah.

5. Sistem Indera
Alat Penglihatan
Alat penglihatan terdiri atas bola mata, saraf penglihatan, dan alat-alat tambahan mata.
Bola mata berbentuk bulat, hanya bidang depannya menyimpang dari bentuk bola sempurna karena selaput bening lebih menonjol ke depan. Ini terjadi karena bagian ini lebih melengkung dari pada bagian lain bola mata. Titik pusat bidang depan dan bidang belakang dinamakan kutub depan dan  kutub belakang.
Garis penghubungnya adalah sumbu mata atau sumbu penglihat.
bola-mata 
Bola mata dapat dibedakan dinding dan isinya. Dindingnya terdiri atas tiga lapis. Lapis luar adalah selaput keras, yang di depan beralih menjadi selaput bening. Lapis tengah dinamakan selaput koroid yang melapisi selaput keras dari dalam. Ke depan selaput koroid tidak mengikuti selaput bening. Di tempat peralihan selaput koroid dan selaput pelangi  terdapat bentuk yang lebih tebal dan dikenal sebagai badan siliar. Di tengah selaput pelangi ada lubang yang disebut manik mata.
Alat Pendengaran
Alat pendengaran terdiri atas pendengar luar, pendengar tengah dan pendengar dalam. Pendengar  luar  terdiri  atas  daun  telinga  dan  liang  telinga  luar.  Daun telinga  adalah  sebuah  lipatan  kulit  yang  berupa  rangka  rawan kuping kenyal.  Bagian luar liang telinga luar berdinding rawan, bagian dalamnya mempunyai  dinding tulang.  Ke sebelah dalam liang telinga luar  dibatasi oleh selaput gendangan terhadap rongga gendangan.
alat-pendengaran 
Pendengar tengah terdiri atas rongga gendangan yang berhubungan dengan  tekak melalui tabung pendengar Eustachius. Dalam rongga gendangan terdapat tulang-tulang pendengar, yaitu martil, landasan dan sanggurdi.  Martil melekat  pada selaput gendangan dan dengan  sebuah  sendi kecil juga  berhubungan dengan landasan.  Landasan mengadakan hubungan dengan sanggurdi melekat pada selaput yang menutup tingkap jorong pada dinding dalam rongga gendangan.
Kulit
Kulit terbagi atas kulit ari dan kulit jangat. Kulit ari terdiri atas beberapa lapis, yang teratas adalah lapis tanduk yang terdiri atas sel-sel gepeng,  sedangkan lapis  terdalam disebut lapis benih yang senantiasa membuat sel-sel epitel baru.
kulit 
Kulit jangat berupa  jaringan ikat yang mengandung  pembuluh-pembuluh darah dan saraf-saraf. Tonjolan kulit jangat berupa jari ke dalam kulit ari dikenal dengan papil kulit jangat. Di dalamnya terdapat kapiler darah dan limfe serta ujung-ujung saraf dengan badan-badan perasa.
6. Sistem Pencernaan
Rongga mulut

mulut 
Rongga mulut mulai dari celah mulut dan berakhir di belakang pada  lubang tekak. Oleh karena lengkung gigi, rongga mulut dibagi dua bagian  yaitu beranda yang terletak di luar lengkung gigi dan rongga mulut yang terdapat di belakangnya. Beranda dibatasi ke luar oleh  bibir dan pipi yang mengandung otot-otot mimik dan karena itu gerakannya amat luas.
Geligi
Geligi terdiri atas dua baris gigi tertutup. Setiap baris gigi merupakan suatu garis melengkung yang pada rahang atas agak lain  bentuknya  daripada rahang bawah. Gigi pada rahang atas dan pada rahang bawah letaknya sedemikian rupa sehingga  penampang terbesar setiap gigi rahang atas tepat menempati sela antara dua buah gigi rahang bawah dan sebaliknya. Jadi sewaktu mengunyah setiap gigi bekerja sama dengan dua buah gigi yang berlawanan letaknya.
Lambung

lambung 
Lambung adalah bagian saluran pencernaan makanan  yang melebar seperti kantong, terletakdi bagian atas rongga perut sebelah kiri, dan untuk sebagian tertutup oleh alat-alat yang letaknya berdekatan seperti hati, usus besar dan limpa. Lambung berhubungan dengan alat-alat itu dan juga dengan dinding belakang rongga perut dengan perantaraan dengan beberapa lipatan salut perut.
7. Sistem Urinaria
Ginjal

ginjal 
Ginjal adalah suatu kelenjar berbentuk  seperti kacang yang terletak pada dinding belakang rongga perut setinggi ruas-ruas tulang belakang sebelah atas, ginjal kiri letaknya lebih tinggi daripada ginjal kanan.  Sisi ginjal yang menghadap  ke dalam  berbentuk  cekung.  Di sini masuk  nadi ginjal  (dari aorta) ke dalam ginjal. Nadi ini bercabang-cabang dalam jaringan ginjal.
Kandung kemih

Kandung kemih merupakan tempat berkumpulnya semua air kemih yang terpancar dari saluran ginjal. Dinding kandung kemih yang terdiri atas jaringan  otot polos  dapat   menyesuaikan  diri  terhadap   banyaknya  air kemih di dalam kandung kemih, karena dapat mengendor apabila diisi perlahan-lahan dengan air kemih.
8. Sistem Reproduksi
Alat reproduksi laki-laki
Alat-alat reproduksi laki-laki dibagi atas bagian pembuat mani dan bagian penyalur mani. Bagian pertama berupa kelenjar kelamin, yaitu buah zakar yang membentuk  sel-sel mani. Buah zakar kanan dan kiri  tergantung di dalam sebuah lipatan kulit yang berbentuk kantong dan terletak di bawah tulang kemaluan  yang  dinamakan  kandung buah zakar (skrotum). Pada sisi belakang setiap buah zakar terdapat anak buah zakar yang tergolong sebagai jalan penyalur.
skrotum 
Sel-sel mani keluar dari buah zakar dan masuk ke dalam anak buah zakar. Di sini sel-sel mani melalui suatu saluran halus yang berliku-liku dan di bagian  bawah anak buah zakar beralih menjadi pipa mani, yang berjalan di depan  tulang kemaluan ke atas, diiringi oleh nadi buah zakar dan anyaman pembuluh balik.  Buah zakar, anak buah zakar dan tali mani diselubungi oleh beberapa kerudung dan juga selapis otot yang bernama otot pegantung  yang dapat menarik buah  zakar dan anak buah zakar ke atas.
Alat reproduksi  perempuan
Alat-alat  reproduksi  perempuan  terdiri  atas  indung telur,  tabung rahim, rahim, liang senggama dan alat-alat kelamin luar. Indung telur berjumlah dua, terletak pada dinding sisi panggul kecil di sebelah kanan dan di sebelah kiri. Masing-masing indung telur tergantung pada beberapa ikat dan lipatan salut perut. Indung telur adalah kelenjar kelamin perempuan yang menghasilkan sel-sel kelamin, yaitu sel-sel telur.
Sel-sel telur dalam indung telur diselubungi oleh oleh suatu selubung yang terdiri atas sel-sel,
keseluruhannya berupa bentuk yang dinamakan folikel atau gelembung Graaf. Pada perempuan yang telah masak kelamin, folikel yang berkembang merupakan tonjolan pada permukaan indung telur, yang menyerupai  permukaan buah srikaya. Setelah folikel masak, maka akan pecah sambil  melemparkan ke luar sel telurnya yang  kini terapung  dalam rongga perut (kejadian ini disebut ovulasi).
9. Sistem Syaraf
Otak
Sistem saraf pusat berkembang dari suatu struktur yang berbentuk bumbung. Pada bumbung tersebut dapat dilihat sebuah dasar, sebuah atap dan dua dinding sisi sebagai pembatas suatu terusan yang terletak di tengah. Dalam perkembangan selanjutnya pada beberapa tempat bumbung tadi menjadi tebal, sedangkan pada tempat-tempat lain dindingnya tetap tinggal seperti semula.
bilik-otak 
Di sebelah depan berkembang dua gelembung yang setangkup letaknya. Gelembung-gelembung ini kemudian menjadi kedua belahan otak besar. Di sebelah belakang terbentuk otak kecil, oleh karena itu atap bumbung di sini menjadi semakin tebal.
Sumsum Belakang

sumsum-belakang 
Sumsum belakang menyerupai batang kelubi yang penampangnya jorong. Letaknya dalam terusan tulang belakang anatara rongga tengkorak dan daerah pinggang. Penampangnya dari atas ke bawah semakin kecil, kecuali pada dua tempat, yaitu di daerah leher dan di daerah pinggang. Di tempat-tempat ini sumsum belakang agak melebar.
10. Sistem Endokrin
Kelenjar Himofise

Kelenjar  himofise  adalah suatu  kelenjar endokrin  yang terletak di dasar tengkorak, di dalam fosa hipofise tulang spenoid. Kelenjar himofise memegang peranan penting dalam sekresi hormon dari semua organ-organ endokrin karena hormon-hormon yang  dihasilkannya dapat mempengaruhi aktifitas kelenjar lainnya.
Kelenjar Tiroid

tiroid 
Kelenjar tiroid terdiri atas 2 belah yang terletak di sebelah kanan batang tenggorok diikat bersama  oleh  jaringan tiroid dan yang melintasi  batang tenggorok di sebelah depan. Kelenjar tiroid merupakan kelenjar  yang  terdapat  di dalam  leher bagian depan bawah, melekat pada dinding pangkal tenggorok.
Sumber :
Atlas of Human Anatomy Interactive, Icon Learning Sistems, 2003.
Raven, P. Prof. dr, Atlas Anatomi, Jakarta, Djambatan, 2005.
Syaifudin, H. Drs. B.AC. Anatomi Fisiologi, EGC, 1997.
World Book Encyclopedia Deluxe 2005, Word Book Inc. Chicago.

Read More..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS